Sangging

Sangging adalah sebutan untuk para seniman di Bali seperti pelukis, tukang ukir, ilustrator dan lain-lain yang dalam info seputar budaya dan seni di Bali disebutkan juga bahwa :
Sangging diharapkan pula untuk dapat menghiasi segala sesuatu baik itu dari labu, altar kayu, kapal bambu, sandaran kepala untuk kamar tidur pangeran dan khususnya untuk menggambarkan hiasan dinding astrologi di atas kertas kulit ataupun kain.
Tidak sampai awal 1900-an yang mempengaruhi Barat mencapai Bali. Penggunaan simbol Asia dalam karya, antara lain, Paul Gauguin, Toulouse Lautrec dan Camille Pissaro, menciptakan sebuah tren baru untuk pelukis seni dan Eropa Asia-dipengaruhi mulai bergerak ke Bali. ketenaran Ubud untuk seni dapat ditelusuri kedatangan pelukis Jerman Walter Spies dan pelukis Belanda Rudolf Bonnet.
Sekarang ada berbagai gaya seni yang berbeda, beberapa diantaranya yaitu : Ubud, Batuan, Keliki, Pengosekan dan Young Artists (banyak dari Artis muda, pada waktu sekarang berumur lebih dari 70 tahun).
Di Bali, seorang sangging agar selalu mendapat perlindungan dari dewa - dewi ilmu pengetahuan yang dalam upacara mewinten disebutkan menggunakan banten ayaban bebangkit untuk pensucian diri sebagai pelindung aktifitas sehari-harinya.

Dan setiap berlangsung piodalan pada saat tumpek wayang sebagaimana dijelaskan babad bali, Pura Buwit dalam kahyangan jagat yang berlokasi di pinggir pantai Tulikup Gianyar,
semua warga sangging se-Bali datang sembahyang di pura tersebut yang diyakini sebagai pura dasar Sangging di Bali.
Sebagai tambahan :

***