Bhuwana Agung

Diceritakan pada mulanya alam semesta ini belum ada apa-apa atau kosong;
Yang ada hanya kekosongan atau luang dan pada awalnya yang ada hanya satu yaitu Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana yang dijelaskan eka wara sebagai tingkatan pertama dalam wewaran.
Namun Beliau dengan kemahakuasaan dan kekuatan Cadhu Sakti-Nya juga disebutkan sebagai penyebab matahari yang menjadi sumber energi utama di dunia ini selalu dapat bersinar. 
Dalam sebuah tantra, dijelaskan bahwa keseluruhan alam semesta ini adalah bhuwana agung itu sendiri.

Selain itu, bhuwana agung yang juga diberikan dalam berbagai sebutan seperti :
  • "Jagat Raya"; Sang Hyang Sangkan Paraning Numadi sebagai asal dan kembalinya semua yang ada dan yang tidak ada di jagat raya ini.
    • Dan dapat menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua mahluk yang ada sebagai tujuan dari Jagat Kerti secara sekala dan niskala.
  • "Makro Kosmos"; Tapak Dara sebagai simbol keseimbangan kepada Tuhan dan semua mahluk hidup CiptaanNya.
Proses terwujudnya alam semesta ini disebutkan bahwa, Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur segala yang ada di alam semesta ini yang diciptakan dengan cara Tapa, sebagaimana yang dijelaskan dalam sumber kutipan widhi tatwa.

Kekuataan Tapa tersebut yang menyebabkan terwujudnya dunia ini, dan berhubung sudah diketahui bahwa bentuk dunia ini bulat serupa telor, maka alam semesta ini di dalam kitab Purana disebut “BRAHMANDA”, (“Telor“ Hyang Widhi).

Disebabkan oleh TAPA Hyang Widhi terjadilah dua kekuatan asal yaitu purusha prakerti :
  • Purusa, kekuatan kejiwaan dan 
  • Prakrti (Pradhana), kekuatan kebendaan)
Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta ini, tetapi terjadinya ciptaan itu tidaklah sekaligus melainkan tahap demi tahap dari yang halus kepada yang kasar. 
  • Mula pertama timbullah CITA (Alam Pikiran) yang sudah mulai terpengaruhi oleh TRI GUNA yaitu SATWAM, RAJAH dan TAMAH. 
  • Kemudian timbullah BUDHI (Naluri pengenal). 
  • Sudah itu timbul MANAH (Akal dan perasaan). 
  • Lalu timbul AHANGKARA (Rasa keakuan). 
  • Setelah ini timbul DASA INDRIA (Sepuluh sumber indria) yang terbagi menjadi dua yaitu 
    • PANCA BUDHI INDRIA; 
      • SROTA INDRIA (Rangsang pendengar), 
      • TWAK INDRIA (Rangsang perasa), 
      • CAKSU INDRIA (Rangsang penglihat),  
      • JIHWA INDRIA (Rangsang pengecap), 
      • GHRANA INDRIA (Rangsang pencium)
    • PANCA KARMA INDRIA.
      • WAK INDRIA (Penggerak mulut), 
      • PANI INDRIA (Penggerak tangan), 
      • PADA INDRIA (Penggerak kaki), 
      • PAYU INDRIA (Penggerak pelepasan), 
      • UPASTHA INDRIA (Penggerak kemaluan).
Setelah indria indria ini timbullah Panca Tan Matra sebagai benih dari zat alam dan dari benih itulah  terjadi unsur - unsur benda materi yang nyata yang dinamai Panca Maha Butha sebagai lima unsur zat alam yaitu :
  • AKASA (ether), 
  • BAYU (Gas), 
  • TEJA (Sinar cahaya), 
  • APAH (Zat cair), 
  • PERTIWI (Zat padat). 
Kelima macam unsur zat alam ini berbentuk PARAMA ANU yaitu ATOM ATOM. Panca Maha Bhuta inilah yang mengolah diri, sehingga terjadilah alam semesta ini yang terdiri dari BRAHMANDA BRAHMANDA sebagai 
  • Surya / matahari, 
  • bulan / candra, 
  • bintang bintang dan 
  • planet planet termasuk bumi kita ini. 
Dari benda-benda alam (Brahmanda) yang dalam keadaan stabil dan telah berdiri sendiri-sendiri dalam lambang Swastika,
yang Lambat laun dari Swastika itulah berkembang menjadi Padma Anglayang, benda - benda tersebut terbang melayang-layang di awang-awang mengitari matahari (Suryasewana) dengan kestabilan delapan sifat asta dala dari keagungan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Bhuwana Agung yang semuanya terdiri dari lapisan - lapisan Tri Loka yang perbedaan satu dunia (Loka) dengan yang lainnya inilah ditentukan oleh unsur terbanyak dari Panca Maha Bhuta yang menguasainya.
  • Umpamanya Mayapada, bumi tempat kita hidup ini terjadi dari campuran kelima unsur zat alam tadi tetapi yang terbanyak ialah unsur PRTHIWI (Zat padat) dan APAH (Zat cair).
  • Sedangkan Swah Loka atau Swarga (Sorga) atau Dewa Loka (Dunia para Dewa) dikuasai oleh unsur Teja (Sinar) dan Bayu (Hawa).
  • Swah Loka (Dunia Swah) atau Swarga (Sorga) ini disebut juga dengan Dewa Loka (Dunia para Dewa) karena segala yang ada di alam itu adalah bersinar bercahaya, berkat pengaruh unsur Teja (Sinar). Sehingga arti kata “Dewa” disebutkan sebagai “Sinar Cahaya”.

Dalam Lontar Bhuwana Kosa dijelaskan pula bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan oleh Bhatara Siwa (Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa) yang semua ciptaanNya itu berwujud maya yang bersifat tidak kekal.
Sehingga keharmonisan bhuwana agung dan bhuwana alit agar menjadi lebih baik, indah dan lestari dilaksanakan dengan upacara caru (tawur), sebuah yadnya yang merupakan salah satu bagian dari Bhuta Yadnya sebagai aplikasi dari filosofi Tri Hita Karana.
Persembahyangan sehari-hari, sebagai salah satu bentuk yadnya di Bali dengan sarana canang sari, disebutkan mengandung makna memohon kekuatan untuk Bhuwana Agung kehadapan "Bhatara Siwa", Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Caru sebagai makna ruang dan waktu yang disebutkan dalam kutipan Parisada Hindu Dharma (ref), dijelaskan bahwa, bhuta dibangun oleh lima elemen yang disebut sebagai Panca Maha Bhuta, dan kelima unsur itulah yang membangun alam ini seperti planet-planet yang bertebaran di kolong langit ini, bumi, bulan dan matahari. Perputaran planet-planet di alam semesta ini menimbulkan waktu dan musim.
Sebagai perwujudan pemimpin alam semesta ini, Ida Sang Hyang Widhi pun digelari bermacam-macam menurut tempat dan tugasnya, menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya. penguasa yang menjaga penjuru mata angin sebagaimana yang disebutkan dalam Loka Pala, sehingga timbullah Padma Anglayang atau pangider-ngider yang menunjukkan setiap arah itu memiliki urip/neptu.
Sehingga jumlah hari peredaran bumi mengelilingi matahari (surya pramana) disebutkan dalam setahun = 365,24; dan jumlah hari peredaran bulan mengelilingi bumi (candra pramana) dalam setahun = 354,37  Selisihnya  = 10,87 dibulatkan = 11 hari (Lontar Breghu Tattwa) yang mana angka 11 ini digunakan dalam sistem “Saka-Bali” untuk menentukan tingkatan sebuah Meru tumpang 11 (sebelas) di Pura Besakih, dimana diadakannya upacara tawur agung baik bhatara turun kabeh maupun Eka Dasa Rudra yang bertujuan untuk keharmonisan bhuwana agung atau alam semesta ini.
***